Lewat Tari, Rosmala Sari Dewi Peka Situasi Bangsa

| Komentar
Minggu, 25 September 2016 19:09 WIB

Rosmala/ ist

Jakarta, HanTer - Jebolan dari sekolah tari di International Student Visa Program di Broadway Dance Center New York, Amerika Serikat (AS) tidak membuat penari sekaligus kareografer Rosmala Sari Dewi surut kehilangan jati dirinya untuk tetap melestarikan tarian tradisional.
 
Alumni S2 Seni Urban di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini pun melakukan terobosan dengan memadukan contemporary fusion dengan tari tradisional dalam pertunjukkan bertema 'Living With Dance'. Didukung 10 penari latar, sarjana tari yang akrab disapa Mala ini akan menyajikan karyanya tersebut di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki Cikini, Jakarta, Senin (26/9/2016) besok. 
 
"Livingq With Dance adalah sebuah pertunjukan tari yang menandai proses perjalanan menari saya selama 24 tahun melestarikan tarian tradisional dan memadukannya dengan tarian modern," kata Mala, di Jakarta, Minggu (25/9/2016).
 
Menurut Mala, tarian yang akan ditampilkan di TIM juga terkait dengan sikap peka terhadap situasi bangsa terkini. Oleh karena itu selain akan dihadiri para seniman, akan hadir juga sejumlah pemangku kepentingan terkait dengan dunia seni khususnya tari.
 
"Salah satu anggota Komisi X DPR RI juga akan hadir. Kami harapkan dari pertunjukan kami nanti menginsipirasi semua pihak semakin semangat melestarikan kesenian terutama tarian tradisional," terangnya.
 
Mala yang aktif menari sejak umur 6 tahun ini menjelaskan, 'Living With Dance' merupakan salah satu program dari Gandrung Dance Studio yang merupakan sanggar tarinya didirikan sejak tahun 2008.  Tahun ini merupakan tahun ke-8 bagi Gandrung Dance Studio menyajikan karya baru untuk masyarakat pecinta seni pertunjukan.
 
Adapun, proses latihan intensif dilakukan sejak bulan Agustus di Bandung dan pada bulan September di Jakarta. Para penari yang terlibat berasal dari berbagai genre tari yang berbeda baik tari tradisional, hiphop, maupun kontemporer. 
 
"Dengan latar belakang yang berbeda akan memberikan warna tersendiri bagi karya," ujar Mala yang juga pernah menggelar tari di kolong jembatan Jatinegara sebagai bentuk solidaritas antara sesama penari di wilayah itu.
 
Ditempat yang sama, Pengamat Seni dan Budaya FX Widariyanto merespon posiif semangat Mala terus melestarikan tarian tradisional  memadukannya dengan tarian modern yang diminati anak muda. Diharapkan, semangat Mala mengembangkan seni tari tanah air menular pada para regenerasi.
 
"Apa yang dilakukan Mala adalah sebuah kontribusi sumbangan kepada bangsa dari hasil pendidikan nonformal, ini membanggakan," ujar Widaryanto yang juga akademisi di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung, UNPAR, dan IKJ. 
 




(Safari)