Heboh Wayang Orang "Airlangga Sumbaga Wiratama", Menguak Pilar-Pilar Kejayaan Nusantara

| Komentar
Selasa, 27 September 2016 22:02 WIB

Wayang Orang/ ist

Jakarta, HanTer - Pergelaran seni Wayang Orang persembahan Teater Wayang Indonesia dan Yayasan Kertagama memukau penonton, serta memberi energi imajinatif dan luapan perasaan. Selama kurang lebih dua jam, pentas berjudul ‘Airlangga Sumbaga Wiratama’ ini seakan memiliki kekuatan mantra sirep sehingga penonton tetap patuh mengikuti alur cerita, babak demi babak.
 
“Melalui cerita wayang kita dapat mengenal karakter manusia dari berbagai multi dimensi. Cerita Wayang dapat berkontribusi bagi pembentukan karakter. Meretas nilai-nilai inti luhur rohani manusia, agar dapat mengendalikan diri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan,” kata Dr. Sri Teddy Rusdi, di Teater Kautaman Gedung Pewayangan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta Timur, Minggu (25/09/2016).
 
Tak kurang dari 50 seniman dari berbagai disiplin seni terlibat pada pergelaran yang diprakarsai seniman dan budayawan, Dr. Sri Teddy Rusdi ini. Beliau juga bertindak sebagai penulis cerita (penyusun naskah). Bertindak sebagai Dalang, Ki Edi Sulistiyono, S.Sn, M.Hum, Sutradara, Ali Marsudi, S.Sn, Asisten Sutradara Agus Prasetyo, S.Sn, Penata Musik, Untoro, S.Sn, dan Penata Artistik Agus Linduaji.
 
Sri Teddy Rusdi menambahkan  cerita ini sangat relevan dengan konteks kekinian. Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Raja Airlangga menganut sistem ekonomi terbuka dengan perdagangan bebas. Airlangga dikenal sebagai sang pembaharu pada masanya, karena kecemerlangan pemikirannya di bidang politik, kemaritiman, ekonomi, pertanian, sosial budaya, dan keagamaan. “Kepemimpinannya dikenal secara luas dan disegani hingga ke Asia Tenggara,” tuturnya.
 
Pusat kerajaan Kahuripan diletakkan di aliran sungai Bengawan Solo dan Kali Brantas yang menjadi sumber kesuburan  wilayah Kahuripan. Kahuripan kemudian membangun pelabuhan-pelabuhan besar dan kapal-kapal yang berlayar hingga ke Madagaskar. Namun di saat masa kejayaan tersebut, justru Airlangga mengundurkan diri sebagai Raja.
 
 Beliau memilih menjadi Resi (guru kehidupan) dengan gelar Aji Paduka Mpunku Sang Pinaka Chatra nin Bhuwana.
 
“Inilah salah satu yang mendasari saya berinisiatif menuliskan naskah Airlangga yang saya tuangkan dalam cerita pewayangan. Dari usaha ini diharapkan kita dapat menggali dan mengeskplorasi narasi besar kebudayaan bangsa Indonesia sebagai maha karya warisan sejarah dunia,” ujar Sri Teddy Rusdi.
 
Pagelaran tersebut, selanjutnya akan dipentaskan dalam bentuk pakeliran Wayang Kulit semalam suntuk, yang mengangkat kebesaran Airlangga sebagai raja yang dikagumi dan disegani, serta berwibawa pada masanya.
 
Dr. Sri Teddy Rusdi, menyelesaikan gelar doktoral bidang ilmu Filsafat di Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada Yogyakarta, dengan fokus penelitian pada Filsafat Wayang. Beliau juga aktif di berbagai organisasi pelestari budaya, antara lain di Senawangi (Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia), Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia), SNKI (Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia), dan Yayasan Kertagama
 




(Romi)