Menpora Sebut Film Kartini dapat Menginspirasi Kalangan Pemuda Indonesia

| Komentar
Jumat, 07 April 2017 23:30 WIB

Menpora Imam Nahrawi bersama istrinya Shobibah Rohmah pasca menyaksikan film Kartini

Jakarta, HanTer - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi bersama istrinya Shobibah Rohmah menghadiri pemutaran perdana film berjudul Kartini yang merupakan karya sutradara dari Hanung Bramantyo  di XXI Plaza Senayan Jakarta, Jumat (7/4/2017) malam.
 
Politisi asal PKB itu menyambut gembira hadirnya film yang berlatar belakang sejarah kepahlawanan tersebut. “Saya mengharap film ini dapat menginspirasi kalangan pemuda untuk berbuat yang lebih baik bagi bangsa dan negara seperti yang dilakukan Raden Ajeng Kartini yang mampu memperjuangkan hak-hak wanita,” kata Menpora pasca menyaksikan film yang berdurasi 122 menit itu.
 
Film Kartini itu berfokus pada kisah dari Pahlawan Nasional, Raden Ajeng Kartini, di mana pada usianya yang baru 10 tahun saat itu, tapi keinginannya untuk bersekolah sangatlah tinggi ditambah memiliki kepintaran serta fasih berbahasa Belanda. 
 
Buku-buku dia lahap Bahkan selalu dicatat dan didiskusikan jika menggelisahkan. Gurunya menyukai dia begitupun teman-temannya. Tapi sayang, dia harus masuk pingitan di usia 12 tahun. Masuk pingitan berarti disiapkan untuk menjadi Raden Ajeng, menjadi isteri seorang bupati agar mewarisi keturunan ningrat. 
 
Sebagai anak keturunan Bupati Ningrat dia harus mewarisi dan mewariskan darah ningratnya, akan tetapi dia berontak melawan. Akibatnya, dia dibenci oleh keluarganya Meski ayahnya sangat mendukung, tapi adat telah menggariskan. Ayahnya tak berdaya. 
 
Melalui film tersebut, Menpora Imam Imam Nahrawi pun mengajak kaum muda untuk menonton film Kartini ini, lantaran dianggapnya sangat menginspirasi. 
 
Sementara itu, sang Sutradara Hanung Bramantyo, tak ingin film ini sekedar menjadi film sejarah. Lebih dari itu, film ini diharapkan bisa menjawab berbagai pertanyaan tentang sosok Kartini dan menampilkan sisi lain dari Kartini. "Saya ingin ini nggak hanya jadi sekedar film yang hanya menceritakan sejarah. Saya ingin penonton belajar dari film ini bukan karena petuah-petuahnya, tetapi bagaimana sikap Kartini, aksi Kartini," lanjutnya.
 
Oleh sebab itu, Hanung mencoba mengurangi dialog-dialog yang bersifat petuah seperti yang ada pada film biopic (biographical pictures) dan sejarah pada umumnya. 




(Hermansyah)