Wow, Jakarta Bakal Punya Kain Akulturasi Namanya Babe

| Komentar
Jumat, 14 April 2017 19:09 WIB

Soni Soemarsono & Anna Mariana di Bali/ ist

Jakarta, HanTer - Perancang tenun dan songket, Anna Mariana bersama sang suami Tjokorda Ngurah Agung Kusumayudha, SH, MS, MSc, menerima kunjungan Pelaksana Tugas (Plt) DKI Jakarta Soni Soemarsono di dua  lokasi binaan tenun dan songket mereka  di Bali, pada 12 April 2017. 
 
“Pak Gubernur sudah berkunjung ke  Putri Ayu  dan Mengah Agung,  ini merupakan  dua dari 64 lokasi binaan   yang kami miliki di Bali. Pilihan pada ini hanya karena alasan kepraktisan, mengingat durasi waktu Pak Gubernur yang pendek, kami pilih lokasi yang tidak memakan lama untuk perjalanan, “ujar Anna Mariana, di kawasan Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali, seperti rilis yang diterima Harian Terbit, Jumat (14/4/2017).
 
Kunjangan  Soni Sumarsono ini memang  diagendakan di sela-sela jadwal  rapat kerjanya dengan para walikota se DKI di Bali. “Pak Sumarsono mampir untuk melihat proses pembuatan  tenun dan songket Betawi yang sudah kita kerjakan sejak Desember tahun lalu. Pekerjaan menenun ini tidak bisa dilakukan cepat-cepat, karena ini hand made, semua dikerjakan dengan tangan!” ujar  Anna Mariana. 
 
“Target kami pada saat ulang tahun Jakarta  di bulan Juni, pada saat Jakarta  berulang tahun karya yang menyangkut tenun Betawi sudah bisa kita selesaikan,”  tambah Anna. 
 
Dalam pidato sambutannya, Sumarsono  menyebut  cukup puas melihat hasil tenun dan songket yang sudah dikerjakan  oleh penenun binaan Anna Mariana. Meski mengaku bukan seniman, Sumarsono memberi usul  untuk bisa dibuatkan  ragam design yang  lebih banyak untuk tenun Betawi. 
 
“Kalau bisa, tolong  dibuatkan kain tenun dengan design hanya satu ikon Betawi saja. Misalnya hanya ada kepala Ondel-ondel saja, atau  hanya ornamen Gigi Balang saja. Namun design itu dibuat  untuk penuh dalam satu kain!” ujar Sumarsono
 
Lebih lanjut, Sumarsono memaparkan ide cemerlang  yakni membuat  design baru  untuk kaink Betawi, yakni batik akulturasi. Untuk tahap awal ia terpikir memadukan design Bali dan Betawi dalam satu kain. Sumarsono sendiri mengaku sudah membicarakan hal ini kepada Gubernur  Bali, I Made Mangku Pastika. 
 
“Saya namakan kain Babe, yakni singkatan dari Bali dan Betawi.  Betawi sendiri sebelum ini sudah punya kain. Dan kain  yang lama akan tetap dan terus ada. Mutunya kita coba tingkatkan lagi!” ungkap Sumarsono. “Saya akan buat langsung Pergub kain Babe besok pagi!” tambahnya.  
 
Dalam soal design Babe, Sumarsono menyebut sepenuhnya  diserahkan kepada seniman binaan Anna  dan Tjokorda. “Penerbitan Perpu Gubernur ini sekaligus untuk menegaskan budaya Betawi itu yang sangat open. Dari dulu  budaya Betawi tumbuh dan berkembang dari akulturasi antara Cina, India, Arab, Melayu  dan lain-lain. Jadi Betawi asli sebenarnya tidak ada. Adanya  akulturasi,” tuturnya.




(Romi)