Bedah Buku Filsafat Wayang Sistematis, Komunikasi Simbolik Sekaligus Media Ekspresi

| Komentar
Selasa, 22 Agustus 2017 08:39 WIB

Bedah buku/ ist

Yogyakarta, HanTer - Seni wayang memberi peluang bagi para penggiatnya untuk melakukan pengkajian filsafati. Cerita wayang memiliki ciri didaktik yang di dalamnya memuat ajaran budi pekerti. Bahkan bidang moral merupakan anasir utama dalam berbagai pesan yang disampaikan lakon wayang. Wayang dinilai memungkinkan dapat menjadi pisau bedah berbagai aspek dan sendi kehidupan.
 
Demikian pandangan terangkum yang dikemukan Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ (Budayawan & Pengajar di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara), Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum (Penulis Buku Filsafat Wayang Sistematis) dan Drs. Suparmin Sunjoyo (Ketua Umum Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia). 
Ketiganya ditemui saat hadir di acara Bedah Buku “Filsafat Wayang Sistematis” yang berlangsung di Gedung Notonagoro Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM), Yoyakarta. 
 
Bedah buku sekaligus dalam rangka memperingati Lustrum X & Dies Natalis Ke-50 Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM) ini, menghadirkan pembanding/pembedah, Prof. Dr. Mudji Sutrisno SJ, dan Wakil Ketua II Dewan Kebudayaan Yogyakarta Bidang Tangible, Pengajar di Jurusan Arsitektur UII, Dr. Ir. Revianto Budi Santosa, M.Arch, serta Dr. Sindung Tjahyadi bertindak sebagai Moderator. 
 
Menurut Ketua Bidang Humas dan Kemitraan Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (SENA WANGI), Eny Sulistyowati SPd, SE, MM, SENAWANGI telah mengusahakan wayang menjadi salah satu cabang studi baru; yaitu Filsafat Wayang, di Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM), melalui penelitian selama sepuluh tahun. 
 
Penulisan buku ‘Filsafat Wayang Sistematis, merupakan pencapaian tugas pokok SENA WANGI, khususnya terkait dengan program penelitian dan pengembangan pewayangan. 
 
“Buku Filsafat Wayang Sistematis ini diterbitkan atas kerjasama SENA WANGI dengan Fakultas Filsafat Universitas Gajahmada (UGM) Yoyakarta. Ide penulisannya datang dari Ketua Dewan Kebijakan SENA WANGI, bapak Drs. H. Solichin. Kemudian ditindak lanjuti oleh Ibu Teddy (Dr. Sri Teddy Rusdy, SH. M.Hum) dan kawan-kawan,” kata Eny seperti keterangan diterima Harian Terbit, Senin (21/8/2017).  
 
Selain Buku ‘Filsafat Wayang Sistematis,’ SENAWANGI juga telah menerbitkan 15 buku tentang Wayang, dan penulisan Ensiklopedi Wayang Indonesia (EWI) dengan entry baru. 
 
“Wayang adalah komunikasi simbolik, sekaligus media ekspresi. Gambaran lakon kehidupan dengan segala masalahnya. Menyimpan nilai-nilai pandangan hidup dalam mengatasi segala tantangan dan kesulitannya. Melalui wayang, orang dapat memperoleh cakrawala baru pandangan dan sikap hidup,” ujar Eny. 
 




(Romi)