Serunya Seminar Workshop Kritik Film dan Non Kritik

| Komentar
Rabu, 23 Agustus 2017 08:39 WIB

Peserta seminar kritik film/ ist

Jakarta, HanTer - Kritik film merupakan karya yang paling tinggi di bidang penulisan   tentang perfilman. Hal ini karena dalam kritik film harus ada unsur pengetahuan, pemahaman dan  analisis yang  kuat. 
 
Demikian dikatakan oleh ketua Pusat Pengembangan Film (Pusbang Film) Kemendikbud, Maman Widjaya, dalam acara Worshop Kritik Film dan Non Kritik di Jakarta. 
 
Selanjutnya Maman menerangkan, kritik merupakan bagian dari aspresiasi film, baik menurut  UU Perfilman maupun dalam kenyataannya. Oleh karena itu, tambah Maman, tahun depan Pusbang film merencanakan pemutaran  film setiap bulannya bersama para kritikus  film dan pembuatan (produser)  film. Dengan demikian,  akan ada tradisi penulisan kritik  film yang kuat.
 
Maman menandaskan, kritik film  harus tajam, tetapi harus sesuai dengan keahlian para  kritikus film sendiri. "Para pembuat film sudah memiliki para ahli, para kririkus harus memahami hal ini," kata Maman, Senin (21/8/2017).
 
Menurut Maman, sudut pandang kritik film sangat luas. Misal terhadap sebuah film yang dihadapi oleh 30 kritikus film, dapat terjadi 30 sudut pandang. " Ini memberikan pembelajaran untuk masyarakat," tambahnya.
 
Dijelaskan Maman, wartawan film dan kritikus film dapat menjembatani masyarakat terhadap pengertian dan makna dalam film. Dia memberikan contoh pengadengan film. Penerangan soal itu dapat membuat masyarakat lebih mengerti bagaimana memahami sebuah karya film. 
 
Syaratnya karya kritik film sudah dimuat di media pers. Pemenang utamanya akan memperoleh hadiah Rp 25 juta. "Seminar ini buat saya seru, menambah ilmu dan wawasan mengenai cara menulis yang baik dalam hal kritik film Indonesia," kata Syahril, salah seorang peserta seminar.
 




(Romi)