Film Horor Sutradara Bambang Drias Siap Ikuti Festival Film Internasional

| Komentar
Minggu, 10 Desember 2017 20:23 WIB

Pemeran film horor Indonesia terbaru

Puncak, HanTer - Sutradara Bambang Drias tukangi film bergenre horor yang mengklaim siap memberi adrenalin baru bagi penyuka film horor dengan memberikan kisah dan cerita yang menegangkan. Bahkan film ke empat yang di produksi oleh Applecross Production ini akan diikut sertakan dalam Lomba Festival Internasional dan akan tayang perdana pada Februari 2018.
 
Karya Bambang Drias ini ditargetkan sebagai film andalan yang akan mendapatkan apresiasi film Suspense terbaik di pelbagai festival Film Internasional. Tak hanya itu, film ini juga diagendakan akan tayang di Asia, Eropa dan Amerika Serikat.
 
Eksekutif Produser, Lukas Aspari dan Mr Gwei Tze Co menerangkan bahwa dalam film ini terdapat gabungan seni dan komersil. Artinya diharapkan tidak hanya komersilnya aja melainkan ada bagian seni yang menjanjikan. “Ya, karena film ini adalah gabungan seni dan komersil, saya mengharapkan tidak hanya komersial saja dalam film yang diberikan akan tetapi ada nilai seninya yang menjajikan," ujar Lucas dalam jumpa pers di lokasi syuting kawasan Puncak Bogor Minggu, (10/12/2017).
 
Lukas dan Mr Gwei mengawali produksinya dengan menjalin kerjasama, ketertarikan dalam pembuatan film ini karena dirinya meyakini film ini akan menguras adrenalin penonton. "Penonton akan diberikan suguhan yang puas. Sangat menarik, penuh teka-teki dan penuh adrenalin. Penulisnya sudah ngetop yaitu Alim Sudio yang merupakan penulis dari film Ayat-ayat Cinta 2, karena ini merupakan sesuatu yang menghibur dan unik,” terang Lukas.
 
“Tentu ini tidak ada kesulitan yang berat, karena penulis sutradara dan artisnya yang bagus dan kompak," tambah Gwei.
 
Rencananya, film ini akan dipasarkan di Indonesia dan Malaysia yang baru kali ini menjalin kerjasama pembuatan film. Bahkan, ada keinginan masuk akan pasar internasional. “Potensi market Indonesia dan Malaysia, pertama kali kerjasama dan akan kami pasarkan juga secara flobal," ujar Gwei. 
 
Film ini mengisahkan persahabatan empat remaja yaitu Dara The Virgin (Wennie), Laura Theux (Cherry), Meta Permadi (Wulan), Aliyah Faiziah (Nina). Suatu hari ke empat sahabat pergi ke vila untuk berpesta dan berlibur. Saat pesta berlangsung Wennie mengalami kejadian yang tak diinginkan, Al Ghazali melakukan tindak kekerasan kepada Winnie yang  disaksikan oleh Nina, Wulan, dan Cherry. Hal ini membuat Winnie  tidak dapat melupakan tragedi tersebut. 
 
Beberapa tahun kemudian Wennie, Nina, Wulan, dan Cherry kembali bertemu dan merencanakan libur ke vila yang sama untuk berpesta. Namun keadaan tidak seperti dahulu, saat mereka hadir kondisi vila dalam keadaan angker yang dihuni oleh makhluk halus. Hal tersebut membuat ke empat sahabat ini mendapatkan gangguan dan teror dari makhluk halus penghuni vila angker. Untuk kedua kalinya mereka semua mendapatkan tragedi yang sangat tidak terduga.
 
Kedatangan Wennie di vila pada awalnya bertujuan untuk melupakan kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa dirinya, namun kehadiranya membuat trauma yang dialaminya menjadi semakin nyata, hadirnya teror oleh arwah penasaran penghuni vila menambah kepanikan Wennie dan ketiga sahabatnya.
 
Wulan yang memiliki keahlian supranatural berkomunikasi dengan makhluk halus penunggu vila yang seringkali meneror. Namun, Wulan tidak mampu menenangkan dan mengusir gangguan tersebut. Seiring berjalannya waktu, Wulan dapat mengungkap penyebab hadirnya makhluk halus di vila petaka itu. 
 
Pembantaian tragis pernah terjadi pada keluarga Hans dan Roweina sebagai pemilik vila yang dilakukan oleh orang yang tak dikenal. Sampai pada kehadiran ke empat sahabat itu, teror terus mengikuti dan menjadi sebuah "KUTUKAN" di setiap harinya. Suasana liburan pun berubah menjadi malapetaka yang tak dapat dihindarkan.
 
Ketegangan film ini menjadi semakin nyata, berkat teknik pengambilan gambar profesional, balutan efek grafis moderen dan pemilihan sound yang membuat bulu kuduk berdiri. Kepanikan terus menghiasi hari demi hari mereka, dan satu persatu dari ke empat sahabat menghilang secara misterius, hal ini menimbulkan sebuah teka-teki yang sulit untuk dipecahkan. Jeritan yang terdengar dari tiap sudut vila dan raungan hutan belantara mengiringi kematian mereka.




(Hermansyah)