Inilah Kolaborasi Tenun-Songket Bali dan Sulsel Karya Anna Mariana

| Komentar
Senin, 13 Agustus 2018 07:57 WIB

Desainer tenun & songket Anna Mariana cs/XPose Indonesia

Bali, HanTer - Sejauh ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Bali menjalin kerjasama dalam pengembangan tenun dan songket, khususnya dalam menciptakan motif kolaborasi antara Sulsel dan Bali.
 
Penandatanganan Nota Kesepahaman Antara Pemprov Sulsel dan Pemprov Bali tentang Pengembangan Tenun dan Songket Kolaborasi Motif Sulsel dan Bali, dilaksanakan di Lokasi Tenun Ikat Puteri Ayu, BlahBatu, Kabupaten Gianyar, Bali. 
 
Kerjasama tersebut menunjuk Anna Mariana, House of Marsya, Spesialis Kain Tenun dan Songket Nusantara, untuk membuat dan menciptakan desain kain tenun dan songket perpaduan motif Bali dan Sulsel, yang selanjutnya diberi nama Tenun dan Songket Bali Magis (Bali - Makassar Bugis). 
 
“Agar masyarakat di  luar negeri,  mau mengenal daerah-daerah lain di luar Bali di Indonesia, lewat tenun dan songket juga batik,” kata Anna, Sabtu (11/8/2018).
 
Penjabat Gubernur Sulsel, Dr Sumarsono, mengatakan, Indonesia memiliki ribuan budaya yang harus tetap dijaga sebagai kekuatan pertahanan negara. Salah satu bagian dari upaya pelestarian budaya ini adalah melalui tenun dan songket. 
 
"Melalui MoU ini, ada budaya Bali dan Sulsel yang kita ikat. Saya memberikan nama Bali  Magis atau Bali Makassar Bugis," ujar Soni, sapaannya. 
 
Sedangkan, Kepala Dinas Perindustrian Bali, I Putu Astawa, mengatakan, Bali merupakan daerah yang sangat kecil, hanya 0,29 persen dari seluruh Indonesia dan tidak memiliki tambang. Bali hanya memiliki pariwisata, pertanian dalam arti luas, dan Usaha Kecil Menengah (UKM), yang mengenergi masyarakat Bali.  
 
"Berbagai program telah dilakukan Pemprov Bali, mulai dari mengurangi beban orang miskin, dan untuk menambah pendapatannya. Selain itu, ada juga program untuk sekolah bagi warga miskin bertaraf internasional, yakni SMA/SMK Bali Mandara, yang berlokasi di Buleleng. Sekolah ini adalah boarding school yang dibiayai pemerintah, yakni Rp50 juta per orang per tahun," terangnya.




(romi)